POLEMIK SEPUTAR PENGANGKATAN KAPOLRI

Setelah melalui proses seleksi yang cukup alot, akhirnya pada hari Jumat, 22 Oktober 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik Komjen (Pol) Timur Pradopo sebagai Kapolri menggantikan Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri yang telah memasuki masa purnabhakti. Sebelumnya, Rapat Paripurna DPR RI pada tanggal 19 Oktober 2010 secara aklamasi menyetujui usulan pengangkatan Komjen (Pol) Timur Pradopo sebagai Kapolri.

Pengangkatan Komjen (Pol) Timur Pradopo sebagai Kapolri tak diduga banyak kalangan. Pasalnya, dalam proses seleksi awal yang dilakukan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), nama Timur Pradopo tidak masuk dalam nominasi calon Kapolri. Dalam proses seleksi Kompolnas hanya muncul 2 (dua) nama calon kuat Kapolri, yakni Komjen (Pol) Nanan Sukarna dan Irjen (Pol) Imam Sudjarwo. Saat diusulkan sebagai calon Kapolri, Komjen (Pol) Nanan Sukarna masih menjabat sebagai Irwasum, sedangkan Irjen (Pol) Imam Sudjarwo menjabat sebagai Kepala Lemdiklat. Dengan keluarnya Peraturan Presiden No. 52 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara RI, maka pangkat Kalemdiklat harus Komjen, sehingga Kapolri Bambang Hendarso mengusulkan kenaikan pangkat Irjen (Pol) Imam Sudjarwo menjadi Komjen.

Munculnya dua nama calon kuat Kapolri, Komjen (Pol) Nanan Sukarna dan Komjen (Pol) Imam Sudjarwo sempat menimbulkan polemik diberbagai media massa. Dinaikkannya pangkat Imam Sudjarwo menjadi Komjen diperkirakan banyak kalangan internal Polri sebagai indikasi kuat jalan menuju TB-1. Nama Imam Sudjarwo sempat digunjingkan sebagai kerabat Presiden SBY, namun isu tersebut langsung dibantah Presiden SBY. Mantu Presiden SBY, Annisa Pohan melalui account twitternya juga sempat membantah jika Imam Sudjarwo merupakan kerabat bapaknya (Aulia Pohan). Menanggapi isu tersebut, DPR RI melakukan verifikasi terhadap Komjen (Pol) Imam Sudjarwo dan hasilnya membuktikan bahwa Imam Sudjarwo memang bukan merupakan keluarga istana. Namun, Imam Sudjarwo merupakan kawan dekat seangkatan (Akmil 1980) adik ipar Presiden SBY, yakni Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo yang pada tanggal 27 September 2010 diangkat sebagai Panglima Kostrad (Pangkostrad). Banyak kalangan menduga kenaikan pangkat Imam Sudjarwo menjadi Komjen merupakan strategi memberi “jalan” bagi Pramono Edhie Wibowo agar juga “pantas” menyandang pangkat yang sejajar, yakni Letnan Jenderal untuk selanjutnya dipromosikan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Penetapan Komjen (Pol) Timur Pradopo sebagai Kapolri sempat menimbulkan banyak pertanyaan. Munculnya ungkapan “Pagi bintang dua, sore bintang tiga dan esoknya bintang empat” merupakan gambaran proses kenaikan pangkat yang sangat begitu cepat. Sebelumnya, Timur Pradopo menjabat Kapolda Metro Jaya selama 4 (empat) bulan dan selanjutnya diangkat menjadi Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) selama 11 hari ! Selama menjabat Kapolda Metro Jaya tidak ada prestasi menonjol yang ditunjukkan Timur Pradopo, justru terjadi aksi kerusuhan antar preman yang merenggut 3 korban jiwa di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Meskipun berdasarkan UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI, Presiden memiliki kewenangan untuk menyetujui kenaikan pangkat level Jenderal dan mengangkat Kapolri, namun kebijakan tersebut tentunya dapat berdampak kurang baik bagi pembinaan SDM Polri. Proses kenaikan pangkat yang begitu cepat tanpa terlebih dahulu dibuktikan dengan prestasi akan menjadi contoh kurang baik bagi proses kenaikan pangkat personil Polri dibawahnya.

Munculnya nama Komjen (Pol) Timur Pradopo sebagai calon tunggal Kapolri yang diusulkan Presiden SBY ke DPR RI terkesan tergesa-gesa dan cenderung mengabaikan 2 (dua) nama calon Kapolri yang sebelumnya diusulkan Kompolnas, yakni Komjen (Pol) Nanan Sukarna dan Komjen (Pol) Imam Sudjarwo. Namun hal ini disanggah Menkopolhukam Djoko Suyanto yang mengatakan bahwa pengusulan nama Komjen (Pol) Timur Pradopo merupakan calon alternatif setelah dua nama calon lainnya dianggap saling bersaing tidak sehat dan syarat kepentingan politik. Pernyataan Menkopolhukam ini dianggap kalangan pengamat sebagai alasan untuk menolak dua nama calon Kapolri yang diusulkan Kompolnas tersebut. Penolakan nama Nanan Sukarna diduga pengamat sebagai bentuk kekhawatiran Presiden SBY karena Nanan Sukarna dianggap dekat dengan pimpinan PDIP dan juga pernah menjadi Ketua Angkatan 1978 di Akademi Militer (Akmil) yang waktu itu membawahi 4 (empat) angkatan, yakni TNI AD, AU, AL dan Kepolisian, dan saat ini banyak rekan seangkatannya yang telah memegang pucuk pimpinan di TNI dan Polri termasuk Panglima TNI saat ini. Dikhawatirkan jika Nanan Sukarna menjadi Kapolri pada saat terjadi proses pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden SBY, maka Kapolri akan mendukung aksi pemakzulan tersebut sebagaimana yang pernah terjadi semasa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.

Meskipun penuh dengan polemik, namun pengangkatan dan penetapan Komjen (Pol) Timur Pradopo sebagai Kapolri harus dihormati bersama sebagai hak prerogatif Presiden sesuai UU No. 2002. Kapolri yang baru memiliki tugas dan tanggungjawab yang cukup berat untuk meneruskan visi dan misi serta program kerja Polri sebagaimana diamanatkan dalam Renstra Polri 2010-2014 dan Grand Strategy Polri 2005-2025. Kapolri juga memiliki tugas dan tanggungjawab untuk melanjutkan Reformasi Kultural ditubuh Polri serta membenahi birokrasi Polri agar tercipta good governance dan clean government.

Selamat Bekerja Jenderal !

Biodata Singkat Komjen Timur Pradopo :

Nama Lengkap : Timur Pradopo
Tempat, Tanggal Lahir : Jombang, Jawa Timur, 10 Januari 1956
Agama : Islam
Jabatan terakhir : Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri

PENDIDIKAN :

– Akademi Kepolisian (1978)
– Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) (1989)
– Kejuruan: PA Lantas
– Sekolah Staf dan Pimpinan Polisi (Sespimpol) (1996)
– Sekolah Staf Administrasi Tingkat Tinggi (Sespati Polri), (2001)

PERJALANAN KARIER DI POLRI :

– Perwira Samapta Poltabes Semarang
– Perwira Operasi Satuan Lalu Lintas Semarang
– Kepala Seksi Ops Poltabes Semarang
– Kapolsekta Semarang Timur
– Kabag Lantas Polwil Kedu
– Kasubag Ops Dit Lantas Polda Metro Jaya
– Kasat Lantas Restro Jakarta Pusat
– Kapolsek Metro Sawah Besar
– Waka Polres Tangerang
– Kabag Jianma Dit Lantas Polda Metro Jaya
– Kapolres Metro Jakarta Barat (1997-1999)
– Kapolres Metro Jakarta Pusat (1999-2000)
– Kapuskodal Ops Polda Jawa Barat (2000)
– Kepala Polwiltabes Bandung (2001)
– Kakortarsis Dediklat Akpol (2002)
– Irwasda Polda Bali (2004)
– Kapolda Banten (2005)
– Kaselapa Lemdiklat Polri (2008)
– Staf Ahli Bidang Sosial Politik Kapolri (2008)
– Kapolda Jawa Barat (2008-2010)
– Kapolda Metro Jaya (2010)
– Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam) Polri (2010)

PENGHARGAAN :
– Satya Lencana 16 Tahun

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s